Sejarah Cerutu di Indonesia dan Dunia

Sejarah Cerutu – Cerutu atau serutu adalah gulungan daun tembakau kering yang sudah difermentasikan. Pada bagian ujungnya layaknya rokok bisa Anda bakar di sebelahnya dan di ujung yang lain bisa Anda hisap. Sejarah cerutu telah ada sejak dahulu kala di berbagai negara dunia seperti Kuba dan Cina.

Seperti halnya rokok, cerutu ini bukan lagi menjadi hobi atau sekadar kebiasaan, tetapi telah menjadi simbol pergaulan, tampilan keperkasaan kaum lelaki dan menjadi pilihan solusi di banyak suasana. Para tentara Kuba menyebutkan, cerutu adalah hiburan bagi tentara perang yang kesepian.

Sejarah Cerutu di Dunia

Penemuan guci bersejarah di Guatemala di abad ke-10 menjadi salah satu sejarah penting mulai adanya sejarah rokok cerutu di dunia.

Pada guci tersebut terlihat lukisan seseorang dari suku Maya yang tampak menggunakan gulungan daun tembakau dengan ikatan benang. Suku Maya menyebut kegiatan tersebut sebagai ‘cigar’ lalu berubah menjadi ‘sigar’ atau merokok.

Pada tahun 1492, tiga orang awak kapal dari Christopher Columbus melihat tanaman tembakau yang tumbuh di Kepulauan Karibia. Menandakan bahwa di masa tersebut telah ada indikasi orang-orang telah menggunakan cerutu.

Amerika Serikat menjadi negara pintu berkembangnya cerutu ke seluruh dunia. Pada tahun 1869 seorang pebisnis cerutu asal Havana, Kuba memindahkan pabrik rokoknya ke Florida Amerika Serikat.

Selanjutnya di tahun 1929 perkembangan cerutu mencatatkan sejarah pentingnya di Kuba. Havana mencatat rekor produksi cerutu terbanyak di dunia yakni sebanyak 500 juta batang. Hal tersebut sekaligus menobatkan Havana sebagai ibu kota cerutu dunia.

Walaupun sejarah cerutu Kuba sudah sedemikian rupa, tetapi peminatnya hanya sepersepuluh dari jumlah para perokok di seluruh dunia. Ya, rokok masih jauh lebih populer ketimbang cerutu. Walaupun hingga saat ini cerutu masih menjadi budaya tersendiri di kalangan tertentu.

Buruknya lagi, beberapa orang mengidentikkan budaya cerutu ini seperti kebiasaan para mafia. Lambang eksistensi para mafia sering tergambar dalam aktivitas menghisap cerutu.

Sejarah Cerutu di Indonesia

Bagaimana dengan sejarah cerutu di Indonesia? Di Indonesia orang sering mengidentikkan cerutu sebagai rokok lintingan, tetapi tentu saja berbeda. Perkembangan cerutu di Indonesia cukup pesat sejak awal abad ke-19.

Pada tahun 1918 berdirilah pabrik cerutu yang pertama di Indonesia, tepatnya di daerah Yogyakarta.

Dalam sebuah buku berjudul History of Indonesia yang terbit pada tahun 1959, Bernard Hubertus Maria Vlekke yang merupakan sejarawan Belanda menyebutkan, bahwa negara Spanyol lah yang pertama kali membawa tembakau ke wilayah Asia termasuk Indonesia. Spanyol pertama kali membawanya ke Filipina, lalu berlanjut lah hingga sampai ke Indonesia.

Indonesia saat ini memiliki jenis tembakau cerutu yang menjadi pesaing keras tembakau cerutu Kuba. Cerutu Jember Indonesia menjadi kualitas unggulan yang menyaingi rasa cerutu Kuba.

Cerutu robusta Jember ini memiliki rasa yang soft, lebih ringan, dan netral. Rasa asap yang minim sehingga benar-benar cocok dengan julukan cerutu Kubanya Indonesia.

Indonesia sendiri hingga saat ini telah mampu memproduksi ratusan ton tembakau setiap bulannya dan sudah diekspor ke negara-negara seperti Belanda, Jerman, Malaysia, Amerika, Jepang, dan sebagainya. Cerutu tersebut dijual tanpa merek sehingga pihak pembeli bisa menggunakan sendiri merek dagang milik sendiri.

Cerutu dan Budaya Masyarakat

Mengapa hingga kini cerutu masih bertahan dan menjadi budaya bagi sebagian orang? Di negara-negara Barat, menghisap cerutu masih mengesankan citra sebagai kebiasaan orang sukses.

Mereka yang bisa menghisap cerutu biasanya adalah orang sukses. Tidak sembarang orang bisa menghisap benda istimewa tersebut. Memang cerutu mahal asal Kuba terkenal eksklusif. Harganya pun tak main-main.

Harga cerutu Kuba untuk lima batang cerutu misalnya, ada yang dibanderol hingga kisaran enam jutaan rupiah. Ada juga yang puluhan ribu per batang, tergantung kelasnya.

Budaya orang sukses menghisap cerutu ini juga masih berlaku di Indonesia, khususnya di daerah Jember, Jawa Timur. Citranya masih sama, menghisap cerutu adalah citra bagi orang sukses.

Namun, sama halnya dengan rokok, cerutu juga memiliki risiko dan bahaya kesehatan jangka panjang. Salah satunya adalah yang bernama TAR.

TAR merupakan kumpulan dari senyawa hidrokarbon yang dapat lengket di paru-paru. Efeknya adalah risiko kanker dalam berbagai organ seperti paru-paru dan mulut.

Bagaimana menurut Anda tentang cerutu ini? Sejarah cerutu yang berkembang di dunia dan seluruh Indonesia membuktikan trend rokok cerutu tak pernah mati. Bukan hanya sesuatu kebiasaan yang nikmat saja, tetapi telah menjadi budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *